Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Sepucuk Surat Untuk Mantan

Sial benar! Sekali lagi aku mendekatkan mataku di depan layar komputer hanya untuk membaca sebuah status pertunangannya di facebook. Semuanya aku lihat jelas, mereka berdua sudah membuat status baru. Tak cukup sekali aku meyakini profil Zenith Marisa yang kedapatan menjalin hubungan dengan Praditya Dana. Dari foto sampul yang terlihat jelas mereka pamerkan kemesraan sambil melempar senyum dan sepasang cincin berkilau jelas melingkar di jari manis mereka berdua.

Enggak, nggak mungkin ini status buat-buatan. Sementara foto-foto mereka saja sudah saling memamerkan kemesraan yang membuat orang lain melihatnya terkesan. Wajar-wajar juga sih, di umur mereka yang sekarang dengan status pertunangan dan bahkan sudah ada yang menikah. Bukan seperti waktu-waktu masih jadi anak sekolah, mau pasang status berpacaran saja takut-takutan terlihat orang tua.

“Hmm.” Aku mendesah-lebih tepatnya mengeluh- saat melihat facebook yang aku buka dengan tampilan pertunangan mereka. “Tak kukira akan secepat ini, Dana. Akhirnya kamu bertunangan dengan Marissa. Padahal selama ini yang kutahu, kalian berdua itu sangat berbeda sifat.”

Selasa, 16 September 2014

What Ever!

Cinta, siapa orang yang tak mengenal kata itu. Bukan hal yang tabu lagi saat ini jika ada anak usia dini sudah mengenal istilah cinta yang di identikkan dengan pacaran. Mereka akan tersipu malu jika ada temannya yang menjodoh-jodohkan dirinya dengan seseorang. Bahkan tak jarang perjodohan itu berakhir dengan kata ‘PACARAN’. Dan, ketika itu pula duniamu akan berubah, yakinlah!!!
Satu tahun berlalu. Hubunganku dengannya semakin erat hingga akhirnya ada wanita lain yang menyelusup. Aku tidak tahu wanita itu turun dari langit keberapa yang jelas ucapannya begitu menyakitkan. Usianya sekitar tiga tahun di bawahku. Sudah sejak lama memang aku merasakan ada cinta yang tumbuh darinya untuk Agha. Terlihat dari pesan-pesan dan komentarnya di facebook. Setiap kali kutanyakan pada Agha, ia hanya menjawab ‘adik-adikan’. Please deh!!!
Sudahlah... aku tak ingin mengingat kejadian tersebut. Intinya sejak hadirnya ‘dia’ hubungan kami merenggang. Aku sudah tak perduli lagi pada Agha yang kerap kali berbohong padaku demi wanita ingusan itu. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.

Jumat, 05 September 2014

Air Mata Hati

Apa harus selalu seperti ini? Setiap aku kembali untuk memasuki kamar, tubuh lemahnya terlihat jelas dari pandangan yang jelas ini. Suara lekikan batuknya selalu sampai ke dalam hati, saat telinga yang aku miliki tak sanggup mendengar lagi. Tuhan... tolong kembalikan dia pada diri yang sebelumnya ceria aku lihat, tertawa aku dengar.

Clara duduk di balkon teras rumahnya. Bagian depan rumahnya tidak terlalu besar, namun beberapa tanaman gantung berjejer rapi di atas. Kolam di pojok rumah terlihat penuh dengan ikan-ikan hias yang bermacam warna, menambahkan nilai unsur kesejukan dari replika bebatuan yang tersusun.

Pikirannya selalu terasa tenang saat menjajaki balkon depan rumahnya. Namun, untuk kali ini dia tidak dapat menghindar dari rasa ketakutan saat matanya selalu menangkap lemah tubuh ayahnya di atas kasur.

Dia terdiam memperhatikan ikan-ikan yang berenang di dalam kolam. Meski demikian, pikirannya kali ini tertuju dengan keadaan ayahnya yang sedang berobat ke luar negeri. Kali ini, balkon tempat biasa dia melewatkan kesepian tidak berfungsi sama sekali. Clara membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang menutupi wajah.

 “Sedang apa, Clar? Tante perhatikan dari jauh kamu murung aja.” Suara tante Rose mengakhiri lamunan Clara.

Kamis, 07 Agustus 2014

Hey! Untuk Kamu Sahabatku

Hey! Untuk Kamu Sahabatku.

Entah, kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi gelap seperti ini. Apa benar jatuh cinta itu akan tumbuh seiringnya waktu yang kita jalani? Teman, nampaknya kita berdua memang sudah ditakdirkan untuk tidak lebih merasakan cinta. Memang, setiap manusia mempunyai hubungan yang unik dalam kisah asmaranya. Tapi, bukankah mereka sudah saling jatuh cinta? Sementara aku, hanya bisa diam di dalam kebimbangan yang selalu aku rasakan saat bersamanya.

Sering benar aku mendengar mereka bercerita dengan bangga, membagi kisah nyata yang berawal dari teman berakhir dengan bergantengan  tangan. Ingin rasanya aku mengatakan hal yang sesungguhnya terjadi, tak hanya menyimpan perasaanku seorang diri yang kemudian selalu berharap lebih kepadanya. Namun, itu hanya halusinasiku yang tak pantas memilikinya lebih dari seorang sahabat.

“Jangan kecewakan dia, Rey. Bukankah persahabatan kalian selalu indah dan penuh suka cita selama ini.” kenyataan seperti itu selalu menghantui hatiku yang takut berujung kesalahan yang fatal untuk kita berdua.

Aku kembali memperhatikan gambar-gambar yang selalu dia upload di akun sosial media miliknya. Tuhan, aku selalu berpikir untuk selalu memilikinya. Bukankah, Kau selalu mendengar setiap doa-doa yang kami sampaikan?

Senin, 23 Juni 2014

I'am Still Loving You

I'am Still Loving You

Musim kemarau saat ini benar-benar terasa panas aku rasakan. Tak disangka-sangka waktu yang terus berputar sangat cepat berlalu meninggalkan hujan. Apa yang aku dapatkan selama hujan datang? Sementara kemarau sudah datang tanpa harus aku undang.

“Mau teh hangat?” Agha menyodorkan secangkir teh.

Tanpa berpikir panjang, Devi menerima pemberian minuman hangat itu. “Terima kasih.”

“Sama-sama.” Agha kembali memberikan senyumannya. “Sedang menunggu siapa? Boleh aku duduk kembali disebelahmu?”

“Jemputan. Silahkan, nggak ada yang larang kamu untuk duduk, Gha.” Katanya, lalu Devi menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk memastikan mobil yang menjemputnya sudah datang.

Ah, kenapa belum datang juga sih. Devi mengambil cangkir teh hangat, mendekatkan ujung cangkir teh itu di tepi bibirnya. Malam ini adalah waktu yang sangat membosankan baginya karena menunggu.

“Sedang terburu-buru?” Tanya Agha. Baginya itu pertanda basa-basi pertemuannya kembali di depan kafe.

Minggu, 18 Mei 2014

Unwanted Leave Taking

Hujan datang menggelap gulitakan keadaan, saat ini aku melihat keluar jendela dan langit menjadi gelap. Langit memandangku dengan tatapan tajam, suara petir terus terdengar sambil memburuku dari balik rumah.

“Rey, gak ada henti-hentinya kamu menghantui aku.” Aku hanya bisa bertanya dengan diriku sendiri, foto-foto kenangan kita berdua masih aku susun rapih di dalam kotak kecil.

Tahukah kamu, Rey. Butuh waktu untukku melupakan dan merelakanmu, di dalam kamar ini punya cerita tentang kita berdua, satu hal yang tak pernah aku lupakan dari kamu, kotak kecil berpita putih ini jadi satu hal yang berharga untukku.

“Nak.” suara Ibu terdengar memanggilku dari ruang tamu.

Aku terbangun dari lamunanku. “Iya, Bu. Tunggu sebentar”.

Sudah cukup, Rey. Foto kita berdua hanya masa lalu, walau aku menangisimu saat ini, percuma. Kamu melihatku dari jauh, bukan merangkul dan bahkan memeluk tubuhku seperti dulu. “Kamu kuat, Dar.” Aku menasehati diriku sendiri sambil memainkan tisu di sekitar wajahku yang lembab dengan air mata.

Suara ketokan pintu itu kembali terdengar dari depan kamarku, Ibu yang masih menungguku terus memanggil dengan seruan nada tingginya “Dara... Dar. Kamu lagi apasih? jadi ikut ibu pergi tidak.” Suara ajakan Ibu kembali terdengar.

Seperti Senja, Kau Hilang Dengan Keindahan

Suara dan senyuman itu hadir, sementara aku hanya diam menahan malu. Aku melihat, mendengar dan memujamu sesaat pertemuan itu. Pertemuan dimana kamu dan aku masih dalam satu .

Waktu itu singkat, benar-benar singkat untuk aku. Kurang dari 2x24 jam kita bertemu, keindahan itu pudar. Harusnya aku punya mesin waktu yang aku bisa hentikan dengan mudah cerita kebersamaan kita, “Sudahlah, aku mengenalmu hanya untuk mengagumi, bukan untuk memilikimu.”
Aku melihatmu menatapku, menyapa malu dengan senyuman yang tergambar jelas dari kedua mataku. Bola matamu terlihat berkilau, memancarkan cahaya di dalam kegelapan.
“Kamu ngefans sama aku, ya? daritadi terus mengikuti aku” katamu yang berdiri dekat dengan teman perempuanku.
“Aku tidak tahu. Mungkin kebetulan saja” aku membatin, sebelum aku membalas sapaanmu “Emang aku mau kesana, satu tempat ini kan kecil dan kita punya kegiatan yang sama” seruku
Senyuman itu aku lihat kembali. Wajahmu hanya berjarak satu meter denganku. Aku masih bisa melihatmu, sebelum kau masuk menuju ruangan yang memisahkan kita.

Jumat, 09 Mei 2014

Distance Between Us!

Aneh, aku sering melihat orang-orang itu penuh dengan kekesalan saat mendengar kata Long Distane Relationship. Apa yang ditakutkan? Jalanin hubungan dengan pasangannya saja belum, udah asal bilang kalau status tentang jarak jauh itu menyeramkan, “Huuh dasar manusia, sudah terbiasa dengan nilai negatifnya sebelum dia tau apa isi yang sebenarnya di dalam kemasan.”

Pertemuan kita dua minggu yang lalu benar-benar belum bisa aku lupakan. Kamu hadir, Krish. Tatapan matamu masih terlihat jelas, walau saat ini kau hadir lewat sebuah foto yang hanya kugenggam keras ditanganku.

Tahukah kamu, Krish. Alasanku memilihmu karena hati. Aku melihat kamu berbeda dengan pria-pria yang sering aku kenal dan jumpai. Kamu pendiam, saat orang-orang sibuk dengan gaya berbicaranya yang mengarah merayuku, kamu malah asyik terlihat diam dengan buku dan note book kecilmu.

Aku mengambil ponselku dari atas meja, mengetik pesan untukmu.

“Ah, Kris. Kenapa sih kamu cepat berlalu untukku?”

Kedua sudut bibirku menutup rapat barisan gigi yang sedang terbuka lebar. Entah apa yang aku rasakan, saat ini perasaanku benar-benar merindukanmu. Aku egois, belum begitu lama kamu pergi dari kota ini, aku sudah kembali menyalahkan dan memintamu untuk datang kembali.

Berselang lima menit kemudian suara ponselku bergetar dan berbunyi. Aku hanya memperhatikan layar ponselku. Dua sampai tiga kali pemanggil misterius itu membisingkan telingaku dari suara nada dering ponselku.

Minggu, 16 Februari 2014

Mata Hatiku Mengalahkan Indra Mataku..

“kembalilah kau pulang nak,jangan kau biarkan rembulan terus bersembunyi dalam memberikan cahayanya,sampai malam nanti bersama ribuan bintang yang berkelip kelip malu karenamu”

Apa yang aku bisa katakan,sementara alam menolak kehadiranku,,dikala pagi datang menjemput dan malam menutup mataku seiring bergantinya waktu. Kini mereka hanya bersembunyi dibalik awan yang putih mempesona dalam tatapan mataku.
Tampak dibawah pepohonan yang tinggi mencakar awan,angin yang bersembus hilir menebarkan pesona uraian rambut. Wanita itu..selalu duduk bersemedi menatap laut dibawah kesaksian senja.
“Ayah...apa kau lihat aku saat ini?”
Terdengar suara wanita itu.. Dengan tatapannya.. Bercerminkan air yang melukiskan pergerakkan pesona langit disenja hari.
“Ayah pasti mendengar apa kata hatimu ra” Suara seorang perempuan setengah baya di pinggir pantai
“ Lalu..kenapa Ayah selalu bersembunyi dalam penglihatanku ? sama seperti bulan dan mentari yang tak pernah aku tatap dengan mataku”
Perempuan setengah baya itu datang menjemput dan mengajak pulang.
“ Andaikan kau tau nak..berita tentang Ayahmu saat lalu” Perempuan itu merunduk menatap wajah anak tercintanya.
“Ibuu.”
“Iyaa naak”
“Aku selalu membayangkan bagaimanakah wajah ayah selama ini”

Sabtu, 04 Januari 2014

Kerinduan Seorang Anak Di Balik Fly Over

Pandanglah dan lihatlah.sesosok pemuda yang belum cukup umur bisa tertawa dan tersenyum bersama sama dengan riang,diatas bangunan besar dengan suara bising yang sering aku dengar saat melintasi sisi rumah mereka untuk berjalan sebagai pengguna bersama,sampai akhirnya aku mulai terasa bosan dan takut untuk terus berjalan melewati tepi jalan..

Sejak tahun ke tahun fly over selalu dipenuhi dengan para sekelompok manusia yang berkumpul dan tidur dengan nyaman di bawah jalan bangunan besar sisi jalan,dimana setiap hari selalu terlihat mereka yang selalu bersama..
Saat ini,tempat itu membuatku bisa bertahan hidup.Aku bukanlah seorang anak yang sedemikian selalu hidup enak seperti mereka disana yang memiliki keluarga.Aku hanyalah seorang bocah yang menjalani hidupku dengan alat sederhana untuk mendapatkan uang,agar dapat bertahan hidup.

Aku berdoa keluargaku yang hilang itu dapat utuh kembali di pelukanku..
Entah bagaimana aku bisa berada disini dan terpisah?ceritanya sangat sulit untuk aku bayangkan kembali.pada saat itu aku hanya melihat orang orang berlarian dan terdengar suara suara teriakkan yang penuh ironis menakutkan di sepanjang jalan saat aku mencari saudara saudaraku yang sudah tidak terlihat disampingku,lalu aku hanya seorang diri menunggu dan menunggu keluargaku datang dengan penuh harapan yang tinggi.

Kamis, 12 Desember 2013

Dunia Memang Sempit

Siang  ini gue pulang lebih cepat dari biasanya,yang sore haripun masih kedapatan jadwal kuliah yang loncat loncat karena jadwal yang gue ambil belum tetap untuk seorang mahasiswa baru.berhubung sudah mempunyai janji  menemani seorang teman perempuan yang gue kenal,akhirnya gue segera bergegas menuju parkiran kampus yang siang itu tampak berkumpul teman teman sekelas yang sedang pada asyik mengobrol.
            “mau kemana sih lu?buru buru bener udah nyalain motor aja”ucap rendy
            Dengan senyum “gak kemana mana,biasa pulang kerumah”
            Rini dengan bingung bertanya “tumben bener mau pulang aja buru buru bener lu,sini sebentar lah kita ngobrol,ada janji sama siapa sih emangnya suf?”
            “ya mau pulang gue,udah ngantuk bener gue.semalam nginep di kosan temen gue kurang tidur gue” sambil memasang muka lesu di depan mereka
            “yaudah kalau gitu hati hati kawan dijalan,nanti malam gue ke rumah lu ajadeh,kita selesaikan tugas bareng” ajak rendy kembali
            “gue gak bisa ren,udah ada janji soalnya dari sore.jadi takut malam nanti gak ada di rumah”jawablah gue

Kisah Anak kuliah Bermalam Di Kost







Terlihat pada malam itu,tempat yang biasa anak anak kost sepi tak begitu berkumpul berubah menjadi ramai.Terlihat dan tergambar sekumpulan anak muda yang biasa meramaikan situasai malam di dalam penginapan.diantara beberapa wanita juga tampak untuk meramaikan suasana yang terlihat semakin ramai,karena selalu suntuk wanita itu hanya berdiam di kamar sendiri.sebagian ada yang tampak asyik terlihat bermain game,berkumpul dan saling bercerita menceritakan pengalaman mereka.

Minggu, 08 Desember 2013

Kenangan Itu . . .

Kenangan itu..


Sekilas kutatap wajahnya saat aku melewati lobi. Dadaku terasa sakit. Aku sesak nafas hingga kuputuskan untuk pergi ke klinik terdekat saat jam  kerjaku telah usai. Dokter menyarankanku untuk tidak mengkonsumsi rokok lagi karena penyakit jantungku semakin parah. Aku selalu berusaha menghentikan hobiku itu tapi ternyata sulit sekali. Disamping lingkungan sosial yang tidak mendukung. Andai aja aku gak pernah kenal rokok! batinku menyesal.
“Rokok bikin lo jantan meen!!” kata Angga dalam benakku yang masih merekam ucapannya sewaktu di SMP.
Tapi kini? Dimana letak kejantanan itu??  setelah dokter menyatakan bahwa Aku punya penyakit jantung, yang membuatku justru lemah tak berdaya.

Kamis, 21 November 2013

Seputar Jalan Raya


            Pada semester genap kali ini jadwal mata kuliahku selalu pagi. Itu juga yang membuatku agak stres saat bangun. Setrika baju, mandi, dandan, de el el, huaa.. capek. Belum lagi saat berada dikendaraan umum dengan Pak sopir yang ugal-ugalan saat berkendara. Rasanya mual tidak karuan. Ciganjur-lebak bulus memang tidak jauh, tapi macetnya itu lho! Gak nahan!