Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 September 2014

Sendiri...

Malam ini bulan sempurna... tapi tak begitu dengan rasa yang ku kecap dalam perjalanan ini.


Ia tak akan pernah sempurna seperti bulan yang bercahaya terang...karena ku tahu, ia yang begitu kucintai telah meredupkan cahayanya,sinarnya.


Padam. dan aku, tak punya pemantik apa pun untuk menyalakannya.

Mungkin mereka bahagia, bersama pasangannya masing-masing.


Sementara aku, hanya diam berteman sepi, sahabat sejati dalam kesunyian.


Malam ini memang tetap sama, saat aku selalu sendiri.

Aku sering bertanya pada bulan.


Bagaimanakah ia dapat sempurna bercahaya meski ia sendiri.


Berteman sepi. Tidakkah ia iri pada bintang yang berpesta pora setiap malam dengan pasangannya masing-masing? 


Ah,bulan. Aku yang iri padamu. Kau selalu memukau dengan kesendirianmu. Tak sepertiku, yang begitu redup hanya karena ia yg pergi meninggalkanku.

Setia... itu yang mampu aku dapatkan dalam keharmonisan malam, saat bulan dan bintang selalu bersama, kalian terlihat indah di pandang mata, terlihat dengan jelas.


Tapi, apakah aku bisa seperti kalian? Biar malam gelap, kau selalu datang dengan sinarmu yang sempurna.


Hilang, Kini Kau Bersama Dia

Kembali ke hari itu, kau sama sekali tidak berbicara. Jadi, aku pun hanya bisa merutuk dalam hati.

'Bisakah kau tidak membuatku menunggu bahkan ketika kau telah berdiri di sampingku?!'

Tapi kau adalah kau. Lelaki yang setiap harinya lebih suka menghitung berapa kali ombak telah menyentuh pantai ketimbang membalas pesan pendek dariku.

'Jadi, kenapa aku bisa menikah dengan lelaki ini?'
Itulah pertanyaan bodoh yang akhir-akhir ini sering muncul di kepalaku.

***
Maaf, mungkin aku hanya bisa sampaikan satu kalimat yang sebenarnya tak berarti.

Alasan yang tak berguna, bukan jawaban yang tak ingin kau dengar.

Namun, apa daya. Lambatnya waktu membuatmu jenuh menunggu.

Setiap kali aku menghitung ombak, rasanya percuma untuk mengembalikan kepercayaanmu itu.

Kau adalah kau, wanita senja dengan penuh perhara. Setiap petang akan hilang selalu menyimpan keindahannya bersama gelap karena malam.

Pergilah, kasih. Jangan kau tunggu aku lagi.

Mungkin pilihanmu dengan dia, bukan untuk bersamaku kembali.

Maaf, cukup sampai disini, kita bertahan dan tak lagi bersemi.


Selasa, 12 Agustus 2014

Kita... Mimpi Indah!

Mimpi itu memang indah.
Saat mata kita terpejam, bahagia itu datang dengan mudah. Dan hilang begitu singkat, kemudian menyisakan luka.

Entah, aku pun sendiri bingung.
Kenapa mimpi itu indah? Dan, kenapa luka selalu datang saat kita ingin bahagia?
Sadarkah kamu,Nes. Waktu kita singkat, begitu pun harapan kita berdua yang hilang.
Kita bersama lalu kemudian berpisah, tersiksa dengan beratnya kecewa.

Selamat tinggal, Nes.
Kau seperti senja, lalu hilang dengan warna jingga.
Kau begitu indah, saat masa-masa kita berdua pernah bersama.

Aku bermimpi, kita akan bertemu kembali.
Aku, kamu dan kita semua saling bersemi, melukis kisah baru dalam kanvas putih.
I remember you, Nes.
Setiap kenangan selalu ada jeda untuk bahagia.
Selalu mengurai masa-masa kenangan yang tercipta.

I Still Loving You.
Kalimat singkat untuk Nessa di surga.


Mimpi...

Nes, ada banyak hal yang benar-benar indah, saat aku mengatakan kepadamu nanti kita akan selalu bersama merajut cinta.
Ku harap setiap mimpi-mimpi ini akan menjadi kenyataan yang selalu aku impikan.
Kehilangan setelah kebersamaan kita nanti akan menjadi luka yang sangat membebani pikiranku.

Aku pikir ini cinta.
Kita bersama-sama kembali hangat ke dalam kisah asmara.
Kecewa, itu bukan takdir yang kita terima.
Aku kehilangan kamu, orang pertama saat aku mengenal rasa, kita bertemu dan kemudian berpisah begitu saja.
Biarlah, biarkan waktu menjawab kisah kita.
Biarlah aku simpan semua luka, kenyataan yang tak pernah aku inginkan. Kita berpisah, kau dan aku tak saling kenal.

Adakah cinta yang tulus kepadaku.
Adakah seseorang yang bisa membuatku kembali nyaman.
Kini, aku sendiri. Sederhana mungkin memberi rasa tanpa kau disisi.

Inikah cinta? Manis yang aku rasa dalam rasa. Pahit yang aku dapatkan karena kecewa.
Manisnya kata membuatku dilema dalam ruang yang tak akan bisa aku dapatkan untuk sebenarnya.

Senin, 21 Juli 2014

Pesan Singkat Untuk Harapan


Satu hal yang aku lihat...
Menatap kedua matamu aku tak sanggup...
Ribuan kata hanya aku simpan...
Satu hal yang aku inginkan...
Memilikimu dengan cinta dan rasa...
Satu cara yang belum aku bisa lepaskan,
Mengungkapkan cinta...
Menahan rasa dengan keindahan yang hanya aku pendam bersama luka...

Dar, ada banyak cara yang aku ingin ungkapkan rasa untukmu...
Saat melihat pesona dari mataku, kau begitu indah dengan balutan hijab dikepala...

Semoga kau mendengar, Dar. Rintihan jiwa yang selama ini aku pendam terlalu lama...
Luka di hati, bercampur keruh bersama harapan...

Masih adakah sedikit ruang yang kau berikan untukku?
Masih sanggupkah buatku menahan rasa, menyembunyikan luka di balik kebisuan...

Aku harap kamu mendengar, memberikan sedikit cinta di dalam rumah tangga kita kelak.
Doa dan harapan aku sampaikan padamu, Tuhan.

Salam,
Calon suami yang masih butuh jawaban untuk masa depan kita.

Krishtian.

Pilihan Kita


Masa orde baru akan di mulai dengan pemimpin yang sudah menjadi pilihan.
Dua pasang lelaki dewasa memberikan argumen untuk rakyat.
Masih ingatkah kita di saat kecil yang tidak mengerti apa-apa?
Mendengar dengan telinga, namun tak mengerti apa yang mereka ucapkan.
Melihat slogan-slogan yang terbentang lebar di atas jalanan, tapi kita menunjuk tanpa sadar siapakah mereka?

Rakyat, itulah kita.
Mereka di sana, calon-calon pemimpin kita.
Mereka di sana akan menjalankan mandat dari harapan yang kita sampaikan.

Satu pasang, dua orang. Suara kita bersama yang menentukan pemimpin Indonesia.
Angkat tangan kita.
Ulurkan jemari yang ada dengan senyum indah.
Kita siap, kita kuat dan kita bisa mendengar keputusan yang sudah menjadi keputusan mutlak.

Kita satu bangsa, menjunjung bhineka tunggal ika.
Kita semua akan sama, siap menjadi rakyat yang menginginkan perubahan.

Indonesia, pancasila dasar negara.
Merah putih, warna yang hidup dengan semangat yang suci.
Banyak langkah yang harus mereka jalankan kelak.
Kerja sama, kita gotong royong menjunjung kebersamaan yang erat.

Bersama doa kita sampaikan.
Dari harapan kita harus wujudkan.
Percaya, yakin dan jujur kita ikhlas untuk lima tahun ke depan.
Membangun bersama, mendukung pergerakan.
Bekerja rata, adil dan makmur tujuan keadilan bangsa kita semua.


Minggu, 13 Juli 2014

Ketakutan Dalam Keraguan

Ada banyak hal yang tak bisa aku ungkapkan di dunia.
Satu dari banyak hal itu adalah menahan perasaan.
Saat jatuh cinta dengan seseorang, aku selalu menyimpannya tanpa sadar.
Menumpukkan luka yang tercampur bersama mimpi-mimpi indah.

Aku tahu, kecewa itu pasti akan kita dapatkan.
Ketika keinginan kita untuk memiliki dia berujung luka.
Tapi, apakah kau bisa lepas dengan semua beban perasaan yang kamu punya?
Ketika perasaan itu hanya bisa terpendam di dasar jurang ketakutan.

Cinta.
Singkat dan mudah bila kita ucap begitu saja.
Bahagia dan tentram saat sepasang tangan menggenggam erat.

Bayangkan saja, bunga di taman tak cukup sekali menerima kumbang menghisap madunya.
Itu sama, seperti pria atau wanita yang menjalani hidup bukan berpatok pada diri kita seorang.

Kecewa, aku selalu berharap menjauhi kalimat yang membuatku terluka.
Bahagia, akhir setiap perjuangan aku inginkan bersama-sama.
Satu hal dalam pintaku yang tak pernah lepas dalam doa, kau indah bersama senyuman.

Sabtu, 12 Juli 2014

Hujan Kerinduan Kita

Hujan...
Aku melihat kau dari balik jendela.
Memegang erat jari-jemariku, merangkul hangat dengan angan dalam imajinasi.
Setetes demi tetes berhasil membasahi permukaan, saatku merasakan kekejaman dengan kerinduan.

Hujan...
Apa kau mendengar jeritan rinduku untuk dia?
Mengapa kita berpisah dengan rindu yang mendalam, saat hujan kembali datang.

Adakah kehangatan yang bisa aku rasakan di dalam rinduku untuk dia?
Di saat manjaku tak lagi bersama, kecuali kesendirian.

Aku percaya hujan tak selamanya memberikan rindu,
Tak selamanya membuatku selalu membisu.
Ketika cahaya gelapnya hilang, kau pergi dengan pesona indah di langit yang bisa kutatap dengan mata.

Meneteskan rindu memang berat saat kita tak berdua tidak saling dekat.
Sama halnya ketika kita seperti dulu, kau dan aku menjadi gelap seperti hujan. Lalu kemudian, kita berdua menggambarkan pelangi indah di pesona alam, ketika kita berdua saling melengkapi cerita dengan cinta.
Kita bersama, tak seperti dahulu berpisah dengan keegoisan.
Kita berdua, seperti sekarang melawan rindu dari balik hujan yang mengikis perpisahan.

Jumat, 02 Mei 2014

Suara Itu Lantang Saat Aku Dengar

Suara itu terdengar lantang.
Aku hanya bisa diam menyaksikanmu dari belakang.
Penjelasan yang kau ucapkan terdengar kuat saat aku perhatikan.

Ada apa dengan kamu ?
Kesalahan apa lagi yang aku dapatkan setelahnya.
Tahukah kamu, ucapan itu membuatku kagum.
Setiap kata yang kau sampaikan benar-benar membuatku terdiam, tak banyak bergerak ataupun bertingkah.

Hebat, aku hanya bisa sampaikan dengan kata-kata.
Kau satu, berdiri tegap di antara banyak orang.
Kau percaya, bahasa yang kau keluarkan begitu kekal dan muthlak.

Kini aku kembali diam, entah bagaimana caranya menilai yang sesungguhnya.
Dilema, sepertinya kalimat itu cocok untuk aku pinang.

Kau yang aku sanjung di antara banyak peserta.

Kamis, 01 Mei 2014

Satu Hal

Satu hal yang tak pernah aku lupakan
Kebersamaan di antara  kita terjadi begitu saja
Aku, kau dan dia saling mengenal satu sama lain

Satu asrama, kita mulai saling mengenal
Seberapa banyak waktu yang telah kita dapatkan
Seberapa banyak  arti kebersamaan di antara kita
Waktu memisahkan kita, memberikan kesenggangan untuk kembali bertemu nanti

Ada cerita di saat-saat kita tertawa bersama
Banyak hikmah yang aku bisa uraikan dari keseluruhan
Kampus fiksi spesial Jogjakarta, kita ikut memeriahkan
Kampus fiksi, sebentuk komunitas kekeluargaan bersama

Singkat, satu hari kita berlalu dengan keceriaan
Satu hari kita benar-benar berbagi pengalaman dengan ilmu yang di dapatkan
Saat pagi datang di sambut dengan siang untuk sejenak beristirahat

Terima kasih, satu ucapan yang hanya bisa kusampaikan
Dari pengalaman aku bisa banyak belajar, mendapatkan segala hal yang saat ini aku kenang



Sabtu, 15 Februari 2014

Menjerit Lagi . .



Ibu pertiwi kembali menangis.
Duka dan lirih para pengungsi.
Gunung-gunung bersedih memberikan erupsi.
Awan panas... debu vulkanik... terdengar seiringnya rintihan suara manusiawi.
Tragedi alam, jeritan suara bumi.

Oh Tuhan... cobaan apalagi.
Kami berlari lari di atas bumi.
Oh Tuhan... ampuni dosa kami.
Sebelum waktu berhenti bersama nadi.

Sabtu, 08 Februari 2014

Langitku Permadani

Harus kumulai dari mana lagi
untuk ungkapkan cinta untukmu
pujangga pun angkat tangan sudah
tinggalkan penanya di kertas putihku

langit pun tersungging saja
melukis cinta di matanya
andai pelangi turun di sini
kujadikan pita perekat hatiku

ada cinta untukmu dariku tentang perasaanku
mungkin tak seindah syair
tak seharum mawar
yang datang dengan apa adanya
namun jadi diraja merajai waktu
Hingga batinku yang biasa biasa saja bergejolak
Menggebu gebu seperti ombak menyisir ke pinggir pantai

Kau permadani dalam ingatan beserta khayalku

Menepi menusuk sampai di ujung hati

Selasa, 14 Januari 2014

Cinta Sahabatku


Sahabat..
Saat kau ungkap cinta aku tak bisa..
Bukan soal kesombongan bahkan kemunafikan yang aku punya..
Aku mohon maaf tak bisa jawab perasaan yang engkau punya..
Karena kita bersama seperti pena berisikan tinta..

Sahabat..selalu kupikir kita berjalan bersama seperti keluarga..
Aku berbicara layaknya teman yang kuharapkan..
Maafkan..aku tak akan pernah bisa..
Terima kasih atas segala perhatian yang kau berikan..
Cukup menjadi sahabat..kita tertawa riang gembira..
Kukatakan apa yang memang harus kukatakan..
Soal rasa yang aku punya tak lebih dari soal bercinta kita berdua..
Masihkah kau seperti ini ? Kita berjalan bersama sama menjalin satu persahabatan..

Aku bangga bila dicintai..
Aku bahagia kau ucap cinta soal rasa dihati..
Tapi..satu hal yang tetap aku pinta untuk kita..
Tetap bersama..kita tertawa..kita berjalan..dan kita bercanda bahagia..
Walau kita berdua dekat bukan berarti kita saling cinta..
Sudahi semua sebagai persahabatan diantara kita..
Aku dan kau tetap disini bersama..berbagi suka dan duka..

Engkaulah sahabat di dalam kesendiriannku selama ini..

Senin, 13 Januari 2014

Sendiri Dan Sendiri

Berhari hari aku sendiri..
Tak seorangpun mengerti..
Sampai kuberfikir tak ada arti lagi didunia ini..
Kata demi kata selalu kurangkai dengan kalimat ungkapan hati..
Beribu waktu yang kulalui dalam sunyi..

Aku bermimpi..
Kau hadir mendampingi..
Harapan demi harapan aku sampaikan..
Meski kurasa itu berlebihan..

Waktu itu singkat bagi kalian..
Tak seperti yang kuharapkan..
Sampai waktu yang menemaniku itu kesunyian..
Sering kusesali..apalah arti teka teka ini..
Pedih dalam hidupku tak pernah ku obati..
Kumengerti..pengalaman pahitku karena kau tlah pergi..

Seindah samudera dilautan biru..
Ku tak mampu..berlari menghindari perjalanan ini..
Setingi langitan yang hadir diatas kepalaku..
Ku tetap mencoba..meski kau tak pernah mengerti..

Sendiri..aku berlari menggapai mimpi..
Kenangan indah itu harus bisa kupelajari..
Kegagalan yang pernah berhenti..
Pelajaran berarti yang pernah kudapati..
Aku jatuh..tak harus terulang kedua kali..

Aku bangkit..seperti bunga yang bermekar bersemi kembali..

Jakarta Lumpuh Total

Gedung gedung mewah terbangun megah mencapai awan..
Dari sela sela pinggir kota sampai di tengah ibukota..
Oh jakarta..namamu identik dengan kemewahan..
Sampai hujan datang kau lumpuh begitu saja..

Dimana letak keindahan..
Sampai pelosok jalan terlihat sampah berserakan..
Disana sini penyerapan air tak berjalan sesuai harapan..
Kecewa dan kesedihan tentu kami dapatkan..


Apa dan harus bagaimana lagi..
Musibah ini terjadi bukan untuk yang pertama kali..
Banjir sana sini..karena kelalaian manusia itu sendiri..
Sampah yang mengalir terus mencemari air kali..
Sampai bangunan bangunan kecil bertahan mengotori negeri ini..

Penguasa..para pejabat petinggi kota..
Kita melihat tak banyak bicara..
Kota yang hijau berubah begitu saja..
Entah harus bagaimana lagi..
Jakarta..ibukota..
Kita lumpuh saat banjir datang melanda..

Kota yang penuh pesona tak lagi tampak bersama sama..

Sabtu, 04 Januari 2014

I B U



Ibuu..
Perjuanganmu tiada henti..
Saat ku hanya sebuah janin,kau berjuang antara hidup dan mati..
Sampai kumenatap dunia dan memanggil namamu lewat bahasa hati..
Sepanjang masa dan tak akan pernah hilang ditelan waktu..
Kasih sayangmu terus mengalir untuk anakmu ini ibuu..
Bahasa manjamu..selalu hadir dalam ingatanku..
Saat kau kecup keningku..
Aku tau..kau bohongiku hanya untuk kebahagianku..
Ibuuu..kaulah wanita no satu..
Pelita kegelapan yang bersinar menerangi disepanjang waktu..
Izinkan aku..berikan aku waktu membahagikamu..
Maafkan aku ibu..
Karena sikap dan kelakuanku yang membuatmu kecewa meneteskan air mata..
Oh ibu..harapan doa dan restu karena cintamu selalu hadir bersamaku..
Terima kasih ibu..
Tanpamu aku tak bisa hidup membuka mata..
Kasih sayangmu sepanjang masa..
Detik waktu terus berjalan..kasih dan sayang selalu hadir..
Ibuku tersayang..kau berjuang sembilan bulan dengan kandungan..
Kau luar biasa..malaikat cinta yang tuhan kirimkan..

Kau istimewa..selalu berjalan saat doamu menyertaiku..

NP : Beliau adalah malaikat cinta yang terlihat selalu mendampingi kita dengan setia..
disaat kita terbaring sakit,ibu selalu menjaga kita dengan penuh kasih dan tulus sekuat beliau..
seringkali dimasa kecil bahkan kita menjadi dewasa mengecewakan ibu,,tapi beliau 

Selasa, 24 Desember 2013

Antek Antek . . .

Indahnya..bahkan kau disana bisa tertawa..
Inikah permainan di balik layar kaca..
Kududuk terdiam mendengar pengakuan yang tak sesuai harapan..
Kau tahu..apalah arti sebuah senyuman..


Oh hebatnya..cukup dengan uang dan uang kau bisa bebas keluar seolah tak seperti tahanan..
Inikah perubahan revolusi kedaulatan yang hilang dengan kepercayaan..
Saat bibir terdiam..hati ingin berkata..tapi apa daya ?,,karena suara kita tak akan pernah sampai dengan mudah kepada mereka..
Permohonan..permintaan bahkan keinginan kita akan selalu tertunda dan hilang tenggelam ditelan masa..

Tatapan main matamu begitu sensasional..
Bibir manismu memang luar biasa mengecoh perhatian dari masalah yang tak kunjung kelar..
Seakan kebisuan..menghentikan laju perkara yang tak pernah usai dengan sempurna..
Sampai waktu..detik jam yang berputar kembali begitu saja tak pernah ada pencapaian..
Tepuk tangan mereka begitu terdengar..
Tak sadar..apa yang sebenarnya terjadi sebenarnya..

Itulah kepribadian bangsa kita..mudah tertawa..tersenyum dan memberi sambutan yang ternyata orang itu salah dalam kedudukannya..

Kamis, 12 Desember 2013

Suara Rakyat Sederhana

Penguasa..ibu bapak yang menjabat..
Tolong dengarkan suara isi hati rakyat..
Kami disini sudah bosan..
Dengan semua janji yang kalian ucapkan..

Koruptor korupsi makin tinggi..
Rakyat Kecil makin tertindasi...

Maling maling kecil di Hakimi..
Maling maling besar di lindungi..
Begitulah nasib negeri ini..
Kasus kasus kecil di perbesarkan..
Kasus kasus besar mudah di lupakan ...
Apa arti Pancasila ? Inikah namanya keadilan ?

Kalian berjanji..bukan cuma bernyanyi..
Kota metropolitan seringkali kau nodai..
Pantaskah kami yang mengalami..
Kau duduk manis..sedangkan kami mengais rezeki tak pernah engkau hormati..
Seribu alasan seringkali kudengar ditelevisi..

Pandanglah kami..Hormati kami..
Tegaskan apa yang pernah engkau katakan..
Bukan seperti tong kosong nyaring berbunyi..
Kami memilih untuk negeri..
Kalian berdiskusi..harus mencari solusi..
Jangan kau warnai sidang rakyat mata kantuk di atas kursi..

Bapak pejabat pengurus Indonesia raya..

Kami mohon kerjasama..

Senin, 09 Desember 2013

Tragedi Itu

Siang ini..tragedi itu datang kembali..
Jeritan amarah kereta api..
Membungkam suara hati..
Tiada lagi takdir yang bisa kita hindari..
Itulah kehendak ilahi..
Sampai nyawa memanggil diperlintasan kuda besi..
Suara suara..jerit tangisan itu kudengar kembali..


Ya Rabbi..kaulah pemilik isi bumi..
Aku tak lagi sedang bermimpi..
Dibalik saksi bisu ibu pertiwi..
KAU beri tanda..seakan mati..itulah akhir hidupku kelak nanti..
Waktu yang KAU beri titipanmu disisa hidupku..

Seakan mati..hidup yang kau beri hanya sekali..
Tiada lagi nikmat yang kau kasih  sampai hari perhitungan nanti..
Cinta ilahi..dari lubuk hati terukir namaMU..
Meski ku rapuh..tak sempurna mengingat namaMU..
BersamaMU aku hidup..sampai matipun kuberserah padaMU..

Dengarlah suara hati..Terkubur jerit isak perih..
Semua tak lagi abadi..Sampai waktu didunia akan berhenti..


Minggu, 08 Desember 2013

Bunda




Mata indahmu sungguh berkaca-kaca..
Ketika parasmu tak lagi ceria..
Ku tak kuasa kau dan perasaanmu berkalut sedih..
Karena hatiku terasa letih..
Menahan kasih yang seakan pecah..