Apa harus
selalu seperti ini? Setiap aku kembali untuk memasuki kamar, tubuh lemahnya
terlihat jelas dari pandangan yang jelas ini. Suara lekikan batuknya selalu
sampai ke dalam hati, saat telinga yang aku miliki tak sanggup mendengar lagi.
Tuhan... tolong kembalikan dia pada diri yang sebelumnya
ceria aku lihat, tertawa aku dengar.
Clara duduk di balkon teras rumahnya. Bagian depan rumahnya tidak
terlalu besar, namun beberapa tanaman gantung berjejer rapi di atas. Kolam di
pojok rumah terlihat penuh dengan ikan-ikan hias yang bermacam warna,
menambahkan nilai unsur kesejukan dari replika bebatuan yang tersusun.
Pikirannya selalu terasa tenang saat menjajaki balkon depan
rumahnya. Namun, untuk kali ini dia tidak dapat menghindar dari rasa ketakutan
saat matanya selalu menangkap lemah tubuh ayahnya di atas kasur.
Dia terdiam memperhatikan ikan-ikan yang berenang di dalam kolam.
Meski demikian, pikirannya kali ini tertuju dengan keadaan ayahnya yang sedang
berobat ke luar negeri. Kali ini, balkon tempat biasa dia melewatkan kesepian
tidak berfungsi sama sekali. Clara membungkukkan tubuhnya dengan kedua
tangannya yang menutupi wajah.
“Sedang apa, Clar? Tante
perhatikan dari jauh kamu murung aja.” Suara tante Rose mengakhiri lamunan
Clara.
.jpg)
