Rabu, 23 Juli 2014

Review Novel Remember When







Novel kedua dari Mbak Winna Efendi, setelah menamatkan novel pertamanya yang berjudul Refrain. Dimana novel yang masih mengangkat cerita cinta anak sekolah ini memiliki empat sudut pandang. Berbeda dari novel terdahulu yang mengambil sudut pandang orang ketiga, sekarang Mbak Winna memakai sudut pandang orang pertama dari tiap tokoh yang terlibat. Empat sudut pandang yang terdapat dalam novel ini adalah sudut pandang Freya, Gia, Adrian, dan Moses.

Berawal dari ketertarikan Adrian kepada Gia dan Moses kepada Freya, Adrian dan Moses memutuskan untuk menyatakan cinta kepada pujaan hatinya di hari yang sama. Adrian yang gemar bermain basket ini berhasil menaklukan Gia yang memiliki jiwa seni dan sangat gemar berorganisasi. Begitu juga dengan Moses yang prestasinya selalu berada di puncak dengan label Ketua OSIS di sekolahnya berhasil dapat memikat Freya yang juga memiliki prestasi di atas rata-rata. Semuanya begitu manis dan menyenangkan, terutama sahabatnya sendiri juga merasakan hal yang sama. Adrian dan Moses yang telah bersahabat dari kecil dan begitu juga dengan Freya dan Gia yang memiliki jalinan pertemanan yang sudah sangat dekat.

Apalagi kelebihan yang mereka miliki membuat semua pasangan di sekolah pasti akan iri dengan kesempurnaannya. Namun, dalam sesi ini terlihat perubahan yang sedikit demi sedikit muncul setelah 2 tahun kebersamaan kedua pasangan tersebut. Perubahan tersebut tidak secara sadar langsung dirasakan, tetapi perlahan-lahan dapat merasuk ke dalam diri mereka semua. Berawal dari seorang Freya yang mengganti warna rambutnya saat menghadiri pesta ulang tahun yang direkomendasikan Gia, sangat disukai Adrian, tetapi ditolak Moses dengan sikap kasar di luar dari biasanya.

Senin, 21 Juli 2014

Pesan Singkat Untuk Harapan


Satu hal yang aku lihat...
Menatap kedua matamu aku tak sanggup...
Ribuan kata hanya aku simpan...
Satu hal yang aku inginkan...
Memilikimu dengan cinta dan rasa...
Satu cara yang belum aku bisa lepaskan,
Mengungkapkan cinta...
Menahan rasa dengan keindahan yang hanya aku pendam bersama luka...

Dar, ada banyak cara yang aku ingin ungkapkan rasa untukmu...
Saat melihat pesona dari mataku, kau begitu indah dengan balutan hijab dikepala...

Semoga kau mendengar, Dar. Rintihan jiwa yang selama ini aku pendam terlalu lama...
Luka di hati, bercampur keruh bersama harapan...

Masih adakah sedikit ruang yang kau berikan untukku?
Masih sanggupkah buatku menahan rasa, menyembunyikan luka di balik kebisuan...

Aku harap kamu mendengar, memberikan sedikit cinta di dalam rumah tangga kita kelak.
Doa dan harapan aku sampaikan padamu, Tuhan.

Salam,
Calon suami yang masih butuh jawaban untuk masa depan kita.

Krishtian.

Pilihan Kita


Masa orde baru akan di mulai dengan pemimpin yang sudah menjadi pilihan.
Dua pasang lelaki dewasa memberikan argumen untuk rakyat.
Masih ingatkah kita di saat kecil yang tidak mengerti apa-apa?
Mendengar dengan telinga, namun tak mengerti apa yang mereka ucapkan.
Melihat slogan-slogan yang terbentang lebar di atas jalanan, tapi kita menunjuk tanpa sadar siapakah mereka?

Rakyat, itulah kita.
Mereka di sana, calon-calon pemimpin kita.
Mereka di sana akan menjalankan mandat dari harapan yang kita sampaikan.

Satu pasang, dua orang. Suara kita bersama yang menentukan pemimpin Indonesia.
Angkat tangan kita.
Ulurkan jemari yang ada dengan senyum indah.
Kita siap, kita kuat dan kita bisa mendengar keputusan yang sudah menjadi keputusan mutlak.

Kita satu bangsa, menjunjung bhineka tunggal ika.
Kita semua akan sama, siap menjadi rakyat yang menginginkan perubahan.

Indonesia, pancasila dasar negara.
Merah putih, warna yang hidup dengan semangat yang suci.
Banyak langkah yang harus mereka jalankan kelak.
Kerja sama, kita gotong royong menjunjung kebersamaan yang erat.

Bersama doa kita sampaikan.
Dari harapan kita harus wujudkan.
Percaya, yakin dan jujur kita ikhlas untuk lima tahun ke depan.
Membangun bersama, mendukung pergerakan.
Bekerja rata, adil dan makmur tujuan keadilan bangsa kita semua.


Minggu, 13 Juli 2014

Ketakutan Dalam Keraguan

Ada banyak hal yang tak bisa aku ungkapkan di dunia.
Satu dari banyak hal itu adalah menahan perasaan.
Saat jatuh cinta dengan seseorang, aku selalu menyimpannya tanpa sadar.
Menumpukkan luka yang tercampur bersama mimpi-mimpi indah.

Aku tahu, kecewa itu pasti akan kita dapatkan.
Ketika keinginan kita untuk memiliki dia berujung luka.
Tapi, apakah kau bisa lepas dengan semua beban perasaan yang kamu punya?
Ketika perasaan itu hanya bisa terpendam di dasar jurang ketakutan.

Cinta.
Singkat dan mudah bila kita ucap begitu saja.
Bahagia dan tentram saat sepasang tangan menggenggam erat.

Bayangkan saja, bunga di taman tak cukup sekali menerima kumbang menghisap madunya.
Itu sama, seperti pria atau wanita yang menjalani hidup bukan berpatok pada diri kita seorang.

Kecewa, aku selalu berharap menjauhi kalimat yang membuatku terluka.
Bahagia, akhir setiap perjuangan aku inginkan bersama-sama.
Satu hal dalam pintaku yang tak pernah lepas dalam doa, kau indah bersama senyuman.

Sabtu, 12 Juli 2014

Hujan Kerinduan Kita

Hujan...
Aku melihat kau dari balik jendela.
Memegang erat jari-jemariku, merangkul hangat dengan angan dalam imajinasi.
Setetes demi tetes berhasil membasahi permukaan, saatku merasakan kekejaman dengan kerinduan.

Hujan...
Apa kau mendengar jeritan rinduku untuk dia?
Mengapa kita berpisah dengan rindu yang mendalam, saat hujan kembali datang.

Adakah kehangatan yang bisa aku rasakan di dalam rinduku untuk dia?
Di saat manjaku tak lagi bersama, kecuali kesendirian.

Aku percaya hujan tak selamanya memberikan rindu,
Tak selamanya membuatku selalu membisu.
Ketika cahaya gelapnya hilang, kau pergi dengan pesona indah di langit yang bisa kutatap dengan mata.

Meneteskan rindu memang berat saat kita tak berdua tidak saling dekat.
Sama halnya ketika kita seperti dulu, kau dan aku menjadi gelap seperti hujan. Lalu kemudian, kita berdua menggambarkan pelangi indah di pesona alam, ketika kita berdua saling melengkapi cerita dengan cinta.
Kita bersama, tak seperti dahulu berpisah dengan keegoisan.
Kita berdua, seperti sekarang melawan rindu dari balik hujan yang mengikis perpisahan.

Senin, 23 Juni 2014

I'am Still Loving You

I'am Still Loving You

Musim kemarau saat ini benar-benar terasa panas aku rasakan. Tak disangka-sangka waktu yang terus berputar sangat cepat berlalu meninggalkan hujan. Apa yang aku dapatkan selama hujan datang? Sementara kemarau sudah datang tanpa harus aku undang.

“Mau teh hangat?” Agha menyodorkan secangkir teh.

Tanpa berpikir panjang, Devi menerima pemberian minuman hangat itu. “Terima kasih.”

“Sama-sama.” Agha kembali memberikan senyumannya. “Sedang menunggu siapa? Boleh aku duduk kembali disebelahmu?”

“Jemputan. Silahkan, nggak ada yang larang kamu untuk duduk, Gha.” Katanya, lalu Devi menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk memastikan mobil yang menjemputnya sudah datang.

Ah, kenapa belum datang juga sih. Devi mengambil cangkir teh hangat, mendekatkan ujung cangkir teh itu di tepi bibirnya. Malam ini adalah waktu yang sangat membosankan baginya karena menunggu.

“Sedang terburu-buru?” Tanya Agha. Baginya itu pertanda basa-basi pertemuannya kembali di depan kafe.

Minggu, 18 Mei 2014

Unwanted Leave Taking

Hujan datang menggelap gulitakan keadaan, saat ini aku melihat keluar jendela dan langit menjadi gelap. Langit memandangku dengan tatapan tajam, suara petir terus terdengar sambil memburuku dari balik rumah.

“Rey, gak ada henti-hentinya kamu menghantui aku.” Aku hanya bisa bertanya dengan diriku sendiri, foto-foto kenangan kita berdua masih aku susun rapih di dalam kotak kecil.

Tahukah kamu, Rey. Butuh waktu untukku melupakan dan merelakanmu, di dalam kamar ini punya cerita tentang kita berdua, satu hal yang tak pernah aku lupakan dari kamu, kotak kecil berpita putih ini jadi satu hal yang berharga untukku.

“Nak.” suara Ibu terdengar memanggilku dari ruang tamu.

Aku terbangun dari lamunanku. “Iya, Bu. Tunggu sebentar”.

Sudah cukup, Rey. Foto kita berdua hanya masa lalu, walau aku menangisimu saat ini, percuma. Kamu melihatku dari jauh, bukan merangkul dan bahkan memeluk tubuhku seperti dulu. “Kamu kuat, Dar.” Aku menasehati diriku sendiri sambil memainkan tisu di sekitar wajahku yang lembab dengan air mata.

Suara ketokan pintu itu kembali terdengar dari depan kamarku, Ibu yang masih menungguku terus memanggil dengan seruan nada tingginya “Dara... Dar. Kamu lagi apasih? jadi ikut ibu pergi tidak.” Suara ajakan Ibu kembali terdengar.

Seperti Senja, Kau Hilang Dengan Keindahan

Suara dan senyuman itu hadir, sementara aku hanya diam menahan malu. Aku melihat, mendengar dan memujamu sesaat pertemuan itu. Pertemuan dimana kamu dan aku masih dalam satu .

Waktu itu singkat, benar-benar singkat untuk aku. Kurang dari 2x24 jam kita bertemu, keindahan itu pudar. Harusnya aku punya mesin waktu yang aku bisa hentikan dengan mudah cerita kebersamaan kita, “Sudahlah, aku mengenalmu hanya untuk mengagumi, bukan untuk memilikimu.”
Aku melihatmu menatapku, menyapa malu dengan senyuman yang tergambar jelas dari kedua mataku. Bola matamu terlihat berkilau, memancarkan cahaya di dalam kegelapan.
“Kamu ngefans sama aku, ya? daritadi terus mengikuti aku” katamu yang berdiri dekat dengan teman perempuanku.
“Aku tidak tahu. Mungkin kebetulan saja” aku membatin, sebelum aku membalas sapaanmu “Emang aku mau kesana, satu tempat ini kan kecil dan kita punya kegiatan yang sama” seruku
Senyuman itu aku lihat kembali. Wajahmu hanya berjarak satu meter denganku. Aku masih bisa melihatmu, sebelum kau masuk menuju ruangan yang memisahkan kita.